Lomba Inovasi Daerah
Tahun 2024
Data Inovasi
| Nama Inovasi | LAPAK BEKAL Belajar IPA Asik Berorientasi Kearifan Lokal |
| Bentuk Inovasi | Pelayanan Publik |
| Inisiator Inovasi | Diki Darmawan |
| Tahapan Inovasi | Penerapan |
| Jenis Inovasi | Non Digital |
| Urusan Inovasi | Pendidikan |
| Rancang Bangun | Bermula dari permasalahan yang dialami oleh penulis terkait pelaksanaan pembelajaran di kelas, banyak diantara siswa saat proses pembelajaran menunjukkan tingkat antusias yang minim, kurangnya interaksi yang diberikan siswa dan siswa cenderung bosan saat belajar. Sementara itu pembelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang dimana bahan kajiannya memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif. Dalam pembelajaran IPA agar mudah dimengerti oleh siswa, dibutuhkan media pembelajaran baik berupa alat peraga maupun media lainnya. agar dapat menguatkan konsep pemahaman materi IPA yang abstrak dengan pendekatan lebih logis dan konstektual. Dari hasil analisis yang dilakukan penulis salah satu penyebab kurangnya partisipasi siswa dalam belajar dikarenakan beberapa faktor salah satunya adalah penggunaan metode pembelajaran yang konvensional seperti ceramah dan kurangnya media pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran.
Dari situasi permasalahan tersebut tercetuslah sebuah gagasan untuk dapat membuat pembelajaran IPA jauh lebih interaktif dan diminati siswa dengan memanfaatkan potensi lokal baik berupa alat dan bahan sederhana maupun lingkungan sekitar sekolah untuk dijadikan sebagai media pembelajaran, oleh karena itu penulis ingin membagikan salah satu praktik baik dalam pembelajaran IPA yang berjudul “Belajar IPA Asik Berorientasi Kearifan Lokal” pada materi lapisan bumi dan bencana alam tema gunung api dan letusan gunung api kelas VII. Pemilihan topik materi ini dianggap relevan untuk dijadikan praktik baik karena dari analisis penulis banyak sekali guru memberikan pengalaman belajar yang kurang efektif dalam memanfaatkan media pembelajaran berupa media gunung maupun letusan gunung api, padahal dalam pembuatan media pembelajaran tersebut dapat dibuat dengan mudah serta menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekolah yang disebut kearifan lokal.
Tindakan yang dilakukan penulis dalam mengimplementasikan praktik baik dalam proses pembelajaran yang berjudul “Belajar IPA Asik Berorientasi Kearifan Lokal” dimulai dengan melakukan perencanaan kegiatan pembelajaran, penulis menyusun strategi yang tepat dalam menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, penulis juga melakukan konsultasi kepada kepala sekolah dan rekan sejawat untuk dimintai saran serta masukkan terkait dengan pemanfaatan media pembelajaran berkearifan lokal. Selanjutnya penulis merancang pembagian kelompok siswa berdasarkan survei kemampuan kognitif dimulai dari kemampuan memahami pembelajaran secara visual, audio maupun kinestetik sehingga saat pelaksanaan pembelajaran siswa lebih mudah untuk memahami materi sesuai dengan tingkat kemampuannya (Diferensiasi). Dalam pelaksanaan pembelajaran, penulis menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, langkah pembelajaran dimulai dengan memberikan stimulan kepada siswa melalui beberapa pertanyaan yang berorientasi pada masalah konstektual yang ada di lingkungan sekolah, selanjutnya membentuk kelompok sesuai dengan rancangan yang ditetapkan penulis sebelumnya. Siswa bersama teman kelompoknya menggali informasi diperkarangan sekolah untuk memunculkan rasa semangat dan motivasi dalam belajar. Kegiatan inti siswa adalah kegiatan berbasis stundent center dengan kecakapan abad 21 dimana siswa bersama kelompoknya memanfaatkan alat dan bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekolah untuk dapat membuat replika gunung api. Setiap kelompok mendapat pembagian tugas berdasarkan tingkat pemahaman (diferensiasi), kelompok visual bertugas untuk membuat bahan presentasi dikertas karton yang menjadi bahan presentasi hasil kerja kelompok di depan kelas, kelompok audio bertugas untuk mencari informasi sedangkan kelompok kinestetik membuat replika gunung api. Pembagian tugas bertujuan untuk membuat setiap siswa berperan aktif dalam belajar dan memahami konsep materi pembelajaran sesuai dengan cara siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Hasil kerja kelompok siswa dipresentasikan di depan kelas sembari melakukan simulasi letusan gunung api dengan memanfaatkan bahan sederhana (kearifan lokal), setiap siswa saling menilai dan mengevaluasi hasil kerja kelompok, diakhir pembelajaran penulis melakukan refleksi bersama siswa dan melakukan penilaian pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi berupa aplikasi quiziz agar proses pembelajaran lebih menyenangkan. |
| Tujuan Inovasi | Adapun tujuan dari dibentuknya LAPAK BEKAL ini yaitu memberikan respon positif baik dari segi keaktifan siswa maupun peningkatan hasil belajar. Tujuan lainnya yang dirasakan adalah timbulnya keinginan diantara rekan sejawat untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sarana pembelajaran di sekolah |
| Manfaat Inovasi | Menumbuhkan minat dan motivasi siswa dalam belajar, siswa lebih aktif dan antusias serta terjadinya peningkatan hasil belajar siswa di sekolah |
| Hasil Inovasi | Dampak yang dapat terlihat dari praktik baik yang telah dilakukan ini dapat penulis rangkum menjadi tiga poin utama, pertama praktik baik yang dilakukan dapat menyelesaikan permasalahan siswa yang kurang antusias, merasa bosan dan kurangnya interaksi yang diberikan siswa dalam pembelajaran. Pemanfaatan lingkungan sekitar (Kearifan lokal) menjadi sarana media pembelajaran merupakan trobosan inovatif yang dapat dikembangkan oleh pendidik dalam rangka meningkatkan kemampuan komunikasi, interaksi serta keaktifan belajar siswa. Dari survey yang dilakukan penulis terkait praktik baik yang telah dilakukan dengan memanfaatkan kearifan lokal mendapat respon positif baik dari segi keaktifan siswa maupun peningkatan hasil belajar. Dampak lainnya yang dirasakan adalah timbulnya keinginan diantara rekan sejawat untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sarana pembelajaran di sekolah. Praktik baik ini dapat menjadi sarana pemantik semangat guru di instansi penulis maupun guru disatu profesi (guru IPA Kabupaten Natuna) untuk dapat mengoptimalkan segala yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran. Dampak terakhir yang dapat terlihat dari praktik baik adalah antusias MGMP IPA, menggagas pembuatan buku pedoman praktik baik berkearifan lokal dalam pembelajaran dengan cara membuat petunjuk dan langkah-langkah pemanfaatan alat dan bahan sederhana terdapat di lingkungan sekitar yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran pengganti yang dirasa relevan dan mampu menerangkan konsep dari materi pelajaran IPA. |
| Waktu Ujicoba | 08-12-2022 |
| Waktu Implementasi | 02-03-2023 |
Keterisian Indikator
| No | Indikator | Keterangan | Parameter | Bukti Dukung | Skor |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Regulasi Inovasi * | Regulasi yang menetapkan nama-nama inovasi daerah yang menjadi landasan operasional penerapan inovasi daerah | |||
| 2 | Ketersediaan SDM Terhadap Inovasi Daerah * | Jumlah SDM yang mengelola inovasi daerah (Tahun Terakhir) | |||
| 3 | Dukungan Anggaran | Anggaran Inovasi Daerah dalam APBD dengan tahapan inisiasi (Penyampaian ide, rapat, proposal, penulisan kajian), ujicoba (pilot project, perekayasaan, laboratorium lapangan, dan sejenisnya), dan penerapan (penyediaan sarana prasarana, sumber daya manusia dan layanan, bimtek, urusan jenis layanan) | |||
| 4 | Alat Kerja | Alat kerja dalam pelaksanaan Inovasi yang diterapkan | |||
| 5 | Bimtek Inovasi | Peningkatan kapasitas dan kompetensi pelaksana inovasi daerah baik sebagai penyedia atau penerima bimtek | |||
| 6 | Integrasi Program Dan Kegiatan Inovasi Dalam RKPD | Inovasi Perangkat Daerah telah dituangkan dalam program pembangunan daerah | |||
| 7 | Keterlibatan aktor inovasi | Keikutsertaan unsur Stakeholder dalam pelaksanaan inovasi daerah (T-1 dan T-2) Unsur Stakeholder meliputi: Pemerintah; Pelaku Bisnis; Komunitas; Akademisi; Media Massa, dsb |
|||
| 8 | Pelaksana Inovasi Daerah | Penetapan Tim pelaksana inovasi daerah | |||
| 9 | Jejaring Inovasi | Jumlah Perangkat Daerah yang terlibat dalam penerapan inovasi (dalam 2 tahun terakhir) | |||
| 10 | Sosialisasi Inovasi Daerah | Penyebarluasan informasi kebijakan inovasi daerah (2 tahun terakhir) | |||
| 11 | Pedoman Teknis | Ketentuan dasar Penggunaan inovasi daerah berupa buku petunjuk/manual book | |||
| 12 | Kemudahan Informasi layanan | Kemudahan mendapatkan informasi layanan melalui metode sebagai berikut : Manual, seperti: tatap muka/jemput bola/noken/unit pelayanan administrasi; Hotline, seperti: layanan email/telp; Media Sosial, seperti: instagram/facebook/whatsapp, dsb;dan Layanan Online, melalui website/web-aplikasi/aplikasi mobile (android atau ios). |
|||
| 13 | Kemudahan Proses Inovasi yang Dihasilkan | Waktu yang diperlukan untuk memperoleh proses penggunaan hasil inovasi | |||
| 14 | Penyelesaian Layanan Pengaduan | Rasio Penyelesaian Pengaduan dalam tahun terakhir (Jumlah Pengaduan yang ditindaklanjuti/Jumlah Pengaduan | |||
| 15 | Layanan Terintegrasi | Jaringan Prosedur yang dibuat secara daring (2 tahun terakhir) | |||
| 16 | Replikasi | Inovasi Daerah telah direplikasi oleh daerah lain (T-2 s/d T-1) | |||
| 17 | Kecepatan Inovasi * | Satuan waktu yang digunakan untuk menciptakan inovasi daerah | |||
| 18 | Kemanfaatan Inovasi * | Jumlah pengguna atau penerima manfaat inovasi daerah (2 tahun terakhir) | |||
| 19 | Monitoring dan evaluasi Inovasi Daerah | Kepuasan pelaksanaan penggunaan inovasi daerah (2 tahun terakhir) | |||
| 20 | Kualitas Inovasi Daerah * | Kualitas inovasi daerah dapat dibuktikan dengan video penerapan inovasi daerah (2 Tahun Terakhir) Data Pendukung: ketentuan video memvisualisasikan 5 substansi: 1. Latar belakang inovasi; 2. Penjaringan ide; 3. Pemilihan ide; 4. Manfaat inovasi; dan 5. Dampak inovasi. Video inovasi dilengkapi dengan cover thumbnail dan ada logo Kabupaten Natuna dan Kemendagri. |